27 April 2017

PAF Gets 2 More FA-50PH Jet Fighters

27 April 2017


PAF FA-50PH number 009 (photo : efrainnoelmorota)

MANILA -- The Philippine Air Force (PAF)'s fleet of FA-50PH "Fighting Eagle" jet fighters has climbed to 10 with the arrival of two more aircaft at Clark Air Base, Angeles City, Pampanga Wednesday morning.

This was confirmed by PAF spokesperson Col. Antonio Francisco in a message to the PNA.

"FA-50 with tail number 009 touched down at 11:20 a.m. while FA-50 with tail number 010 (landed) at 11:21 a.m.," he said.

Francisco said the two aircraft took off from Saechon, South Korea on 7:59 a.m. of April 25 and landed on Jeju on 8:50 a.m. on the same day.

After refueling in Jeju, it took off around 12:39 p.m. and landed in Taiwan around 2:47 p.m. also on April 25.

Francisco said the FA-50PHs departed deparated from Taiwan around 10:08 a.m. April 26 with FA-50PH with tail number 009 landing at 11:20 a.m. and tail number 010 arriving at 11:21 a.m.


PAF FA-50PH number 010 (photo : efrainnoelmorota)

FA-50PHs with tail numbers 007 and 008 arrived in the country last March 29 and were commissioned into service last April 6.

Francisco said the FA-50PHs are very useful for the PAF as it can be used for territorial defense and pilot training which is important as they are now focusing on the "generation" of pilots capable of manning sophisticated jet fighters which the country is planning to acquire for its military modernization program.

The first two FA-50PH units were delivered last Nov. 28, 2015 while the second batch was handed over last Dec. 8.

The third batch was turned over to the PAF last Feb. 22.

With the arrival of the two jet aircraft, only two more FA-50PHs are scheduled to be delivered by May, completing the PAF's 12-plane order from Korea Aerospace Industries (KAI) worth PHP18.9 billion.

The FA-50PHs has a top speed of Mach 1.5 or one and a half times the speed of sound and is capable of being fitted air-to-air missiles, including the AIM-9 "Sidewinder" air-to-air and heat-seeking missiles aside from light automatic cannons.

(PNA)

Skuadron Udara TNI AU Tahun '60-an : Strong and Lethal

27 April 2017


Deretan pesawat pembom strategis Tu-16 Badger-A AURI (photo : TNI AU)

Indonesia pernah menjadi kekuatan udara yang disegani di kawasan Asia. Masa keemasan TNI AU adalah pada tahun 1965 dimana saat itu TNI AU (waktu itu namanya AURI = Angkatan Udara Republik Indonesia) mempunyai 17 Skuadron Udara (dalam istilah TNI AU disebut "Skadron"). Banyak data dalam tulisan ini yang diambil dari SIPRI dan Scramble untuk menggambarkan kekuatan udara pada masa tersebut..

SKUADRON TEMPUR


MiG-15UTI/CS-102 AURI (photo : TNI AU)

Untuk keperluan Operasi Trikora, dalam waktu yang singkat Indonesia dapat mengakuisisi pesawat tempur buatan Uni Sovyet. Pesawat yang diakuisisi terdiri dari MiG-15UTI (versi jalur produksi Cekoslawakia yang dinamakan CS-102) sebanyak 30 unit pada tahun 1958. 

Pada tahun 1959 dilakukan pembelian lagi MiG-17 serie F dan PF sebanyak 49 unit terdiri dari jalur produksi Polandia (LIM-5) sebanyak 30 unit dan 7 unit LIM-5P (MiG-17PF), menyusul kemudian dari jalur produksi China sebanyak 12 unit MiG-17F (dikenal dengan nama Type 56/ Shenyang J-5).

Pada tahun 1961 pembelian dilakukan lagi, kali ini langsung melalui jalur produksi Uni Sovyet dan Indonesia mendapatkan pesawat tempur MiG-19S sebanyak 20 unit dan MiG-21F-13 sebanyak 30 unit.

MiG-17/LIM-5 AURI (photo : Adrie)

Skuadron 11 Abdulrachman Saleh, Malang
Skuadron 11 yang bertempat di pangkalan udara Abdulrachman Saleh Malang mengoperasikan pesawat yang menggunakan jalur produksi non Uni Sovyet yaitu CS-102, MiG-17F, LIM-5, dan LIM-5P.


MiG-19S AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 12 Kemayoran, Jakarta
Skadron 12 yang bertempat di pangkalan udara Kemayoran Jakarta mengoperasikan pesawat tempur yang dibuat melalui jalur produksi Uni Sovyet yaitu MiG-19S, dan MiG-21F13.


MiG-21F13 AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 14 Iswahjudi, Madiun
Skadron 14 yang bertempat di pangkalan udara Iswahjudi Jakarta mengoperasikan satu jenis saja pesawat tempur yaitu tipe MiG-21F13.

SKUADRON PEMBOM


B-26 Invader TNI AU (photo : ebay)

Kekuatan pesawat pembom Indonesia waktu itu mencapai 4 skuadron dan berisi 4 jenis pesawat masing-masing B-25 Mitchell, B-26 Invader, Il-28 Beagle dan Tu-16 Badger. Indonesia menerima 42 pesawat B-25 dari Belanda dan 6 B-26 dari Amerika keduanya pada tahun 1960. Selanjutnya sebanyak 32 pesawat Il-28 didatangkan dari Cekoslowakia pada tahun 1959 dan 26 pembom jarak jauh Tu-16 dibeli dari Uni Sovyet pada tahun 1961.


B-25 Mitchell AURI (photo : TNI AU)

Skadron 1 Abdulrachman Saleh, Malang
Skuadron 1 yang bertempat di pangkalan udara Abdulrachman Saleh Malang mengoperasikan dua tipe pesawat pembom buatan Amerika yaitu B-25C/D/J, dan B-26B. Pesawat ini masuk dalam kategori medium bomber.


IL-28 Beagle AURI (photo : TNI AU)

Skadron 21 Abdulrachman Saleh, Malang
Skuadron 21 yang bertempat di pangkalan Abdulrachman Saleh Malang, mengoperaikan satu jenis saja pesawat Ilyushin buatan Uni Sovyet yaitu IL-28, IL-28R, IL-28U yang tergolong sebagai pesawat medium bomber.


Tu-16 Badger AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 41 Iswahjudi, Madiun
Skuadron 41 yang bertempat di pangkalan Iswahjudi Madiun merupakan skuadron pembom strategis, pesawat yang dioperasikan adalah Tu-16 (Badger A) versi bomber sebanyak 12 unit.


Tu-16KS-1 Badger-B AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 42 Iswahjudi, Madiun
Skuadron 41 yang bertempat di pangkalan Iswahjudi Madiun mengoperaikan pesawat Tu-16KS-1 (Badger B) sebanyak 12 unit, berbeda dengan Badger A, tipe ini mampu membawa sepasang rudal anti kapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel).

SKUADRON HELIKOPTER


Helikopter kepresidenan Sikorsky S-61/HH-3A (photo : Hans Budhiana)

Dalam catatan SIPRI order pengadaan helikopter Indonesia dari Uni Sovyet tercatat dilakukan pada beberapa gelombang. Pada 1959 dilakukan pesanan helikopter ringan jenis Mi-1 Hare sebanyak 8 unit dan Mi-4A/Hound A sebanyak 4 unit. Mi-1 Hare yang dikirim merupakan jalur produksi Polandia yang dinamakan SM-1.

Pada tahun 1962 dilakukan pesanan lagi helikopter Mi-4A/Hound A sebanyak 22 unit (termasuk 1 unit versi VIP) dan 9 unit heli Mi-4M/Hound B versi ASW (versi AKS = Anti Kapal Selam). Dengan demikian jumlah helikopter Mi-4 menjadi 35 unit. Penggunaan heli ini akhirnya dipecah 3 untuk Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Angkatan Darat.

Pada tahun 1964 dilakukan pesanan helikopter angkut berat Mi-6T Hook A sebanyak 8 unit, keseluruhan pesanan ini sudah terkirim semua.

Dari Amerika tercatat pengadaan helikopter latih jenis Bell 47/OH-13 seri Bell 47J2 sebanyak 4 unit pada tahun 1960. Disusul kemudian helikopter Bell 204/UH-1B sebanyak 2 unit pada tahun 1963, dan tidak ketinggalan pada 1964 dilakukan pengadaan heli kepresidenan jenis S-61/HH-3A satu unit. 

Helikopter Mil Mi-4 AURI (photo : TNI AU)

Skadron 6 Husein Sastranegara, Bandung
Skuadron 6 yang bertempat di pangkalan udara Husein Sastranegara Bandung hanya mengoperasikan satu jenis helikopter sedang jenis Mil Mi-4. Heli ini digunakan untuk angkut militer dan SAR tempur.


Helikopter ringan SM-1 merupakan versi Polandia dari Mil Mi-1 Hare (photo : lovelybogor)


Skuadron 7 Semplak, Bogor
Skuadron 7 yang bertempat di pangkalan udara Semplak Bogor mengoperasikan lima jenis helikopter yaitu helikopter latih Bell-47G-2/J, helikopter ringan SM-1 (Mi-1 versi Polandia) dan helikopter sedang tipe Mi-4 dan Bell-204, tidak ketinggalan helikopter VVIP jenis S-61V-1 turut dioperasikan oleh skuadron udara ini. 


Helikopter Mil Mi-6T AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 8 Semplak, Bogor
Skuadron 8 yang bertempat di pangkalan udara Semplak Bogor hanya mengoperasikan satu jenis helikopter angkut berat jenis Mil Mi-6T Hook A.

SKUADRON ANGKUT


Pesawat jet kepresidenan C-140 Jetstar AURI (photo : David Carter)

Dimulai dari akhir tahun 1949 hingga awal tahun 1950 Indonesia menerima 253 pesawat Militaire Luchtvaart dan Marine-Luchtvaartdienst eks Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (ML dan MD KNIL) berupa pesawat berbagai tipe. Diantara pesawat tersebut adalah pesawat angkut DC-3/C-47 sebanyak 34 unit, PBY-5 sebanyak 8 unit, dan L-12A/C-40 Electra Junior sebanyak 4 unit.

Pada tahun 1958 bersamaan dengan kebutuhan operasi pembebasan Irian Barat, Indonesia, mengakuisisi pesawat angkut buatan Uni Sovyet. Pesanan ini dipenuhi dari jalur produksi Cekoslowakia berupa pesawat Il-14/Avia-14 Crate sebanyak 28 unit.

Pada tahun 1956-1959 Indonesia membeli pesawat DHC-3 dari Kanada sebanyak 7 unit, beberapa diantaranya merupakan pesawat second-hand.

Kurun waktu 1957-1960 Indonesia menerima 12 unit pesawat dari Amerika sebagai Military Aid Program (MAP) berupa pesawat patroli maritim HU-16B/UF-1/UF-2 Albatross/Goose. Ke-12 pesawat ini dibagi untuk AU dan AL.

Pada tahun 1960 Indonesia menerima 10 unit pesawat C-130B Hercules dari Amerika. Pesawat jet kepresidenan berupa L-1329/C-140 Jetstar sebanyak 3 unit juga diperoleh dari Amerika pada tahun 1961.

Indonesia juga mengakuisisi pesawat angkut berat buatan Uni Sovyet, kali ini menggunakan jalur produksi langsung dari Uni Sovyet berupa pesawat  An-12 Cub sebanyak 6 unit, pembelian ini dilakukan pada tahun 1962.


Pesawat C-47 AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 2 Halim Perdanakusuma, Jakarta
Skuadron 2 yang bertempat di pangkalan udara Halim Perdanakusuma Jakarta mempunyai fungsi angkut udara maupun survey flight, pesawat yang digunakan merupakan tipe medium yaitu C-47, Il-14/Avia-14, dan L-12A.


Pesawat angkut L-12A Electra (photo : aditara)


Pesawat amfibi PBY-5 AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 5 Abdulrachman Saleh, Malang
Skuadron 5 yang bertempat di pangkalan udara Abdulrachman Saleh Malang menjalankan fungsi angkut dan intai maritim, pesawat yang dioperasikan adalah UF-1, PBY-5, dan G-21A/UF-12.


Pesawat IL-14 AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 17 Kemayoran, Jakarta
Skuadron 17 yang bertempat di pangkalan udara Kemayoran Jakarta menjalankan fungsi angkut VIP/VVIP, pesawat yang dioperasikan terdiri dari beberapa tipe yaitu IL-14, DHC-3, PBY-5, C-47, UF-1, dan L-1329.


Pesawat C-130B Hercules AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 31 Halim Perdanakusuma, Jakarta
Skuadron 31 yang bertempat di pangkalan udara Halim Perdanakusuma Jakarta menjalankan fungsi angkut berat, pesawat yang dioperasikan adalah C-130B Hercules.


Pesawat An-12 Cub AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 32 Husein Sastranegara, Bandung
Skuadron 32 yang bertempat di pangkalan udara Husein Sastranegara Bandung menjalankan fungsi angkut berat, pesawat yang dioperasikan adalah An-12B Cub.

SKUADRON PENDIDIKAN

Seiring dengan pengakuan kedaulatan Belanda kepada Indonesia, pada tahun 1950 KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) menyerahkan 26 P-51D Mustang dan 16 AT-6/T-16 Texan/Harvard kepada Indonesia sebagai bagian dari penyerahan 253 pesawat berbagai jenis.

Indonesia pada tahun 1964 memesan 18 pesawat latih lanjut jet L-29 Delfin buatan Cekoslowakia.

Pesawat P-51 AURI (photo : TNI AU)

Skuadron 3 Abdulrachman Saleh, Malang
Skuadron 3 yang bertempat di pangkalan udara Abdulrachman Saleh Malang mengoperasikan dua jenis pesawat yaitu P-51D/K Mustang, dan AT-6/AT-16 Harvard. Kedua pesawat ini menjalankan fungsi pendidikan untuk latih mula dan latih lanjut.


Pesawat T-6 AURI (photo : TNI AU)

Pesawat L-29 Delfin AURI (photo : TNI AU)

Wing Pendidikan 001 Adisucipto, Yogyakarta
Wing Pendidikan 001 yang bertempat di pangkalan udara Adisucipto, Yogyakarta mengoperasikan 2 tipe pesawat yaitu pesawat latih dasar T-6 versions, dan pesawat latih lanjut jet L-29 Delfin.

ORDER OF BATTLE
Kekuatan udara TNI AU pada tahun 1960-an merupakan kekuatan udara terbesar yang pernah dimiliki, kekuatan tersebut diperoleh dari pengakuan kedaulatan Belanda kepada Indonesia yang diikuti dengan penyerahan ratusan pesawat berbagai tipe, kebutuhan untuk operasi Trikora (pembebasan Irian Barat) dan Dwikora (konfrontasi dengan Malaysia). Kekuatan besar ini seolah cepat sekali berlalu ketika haluan politik berganti di tahun 1966 setelah terjadinya pemberontakan G-30S/PKI.

Untuk mengingat Gugus tempur Skuadron Udara TNI AU pada tahun 1960-an, masa puncaknya adalah tahun 1965 dengan 17 Skuadron Udara terdiri dari kombinasi 7-5-3-2 sebagai berikut :  

(Defense Studies)

26 April 2017

PAF Looking for Rocket Motors for S-211 Jet Trainers

26 April 2017


Air to ground rocket on PAF's S-211 (photo : fatbat_mca)

MANILA --- The Philippine Air Force (PAF) is looking for suppliers capable of delivering PHP8 million worth of rocket motors needed for the use of its SIAI-Marchetti S-211 trainer jets.

Bid opening is on May 5, 9 a.m. at the PAF Procurement Center Conference Room, Villamor Air Base, Pasay City, Air Force bids and awards committee chair Brig. Gen. Nicolas Parilla said in a bid bulletin posted at the Philippine Government Electronic Procurement System website.

The S-211 is the PAF's sole jet-powered aircraft following the retirement of the Northrop F-5 "Tiger" jet fighter fleet in 2005 and arrival of the Korea Aerospace Industries FA-50 "Fighting Eagle" jet fighter in 2015.

Three S-211s remain in the PAF inventory and are used closely for training, recon, and sometimes ground-attack missions. 

(PNA)

TNI AU Gandeng Kemenhub untuk Integrasikan Radar

26 April 2017
Integrasi radar militer dan sipil (image : DilMil)

Yogyakarta - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, menyatakan TNI AU akan menambah radar miliknya yang saat ini berjumlah 20 radar menjadi 32 buah. Selain itu TNI AU juga akan mengintegrasikan radarnya dengan radar milik Kemenhub. 

"(TNI AU) juga akan melengkapi radar Lanud yang saat ini ada 20 dan ke depan akan ditambah 6 dan 6 lagi (12 buah). Total yang akan kita miliki ada 32 radar," ujar Hadi usai meresmikan Monumen F-5 E/F Tiger II di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta, Selasa (25/4/2017). 

Angka 32 radar, kata Hadi, masih merupakan jumlah basic minimun force dan dinilai belum ideal. Sedangkan jumlah idealnya lebih dari itu. Untuk mengatasi persoalan itu, saat ini TNI AU telah bekerjasama dengan Kemenhub untuk melakukan integrasi radar.

"Kita sedang bekerjasama dengan Kemenhub untuk menggunakan radar-radar mereka sehingga bisa kita integrated dengan radar yang kita miliki," kata Hadi. 

Pada awal tahun yang lalu, dalam Rapim TNI AU di Mabes Cilangkap, Jakarta Timur, (24/1), Hadi sempat menjelaskan 12 radar baru ini akan ditempatkan di daerah yang rawan pelanggaran. Selain itu, radar tersebut akan ditempatkan di daerah yang belum terjangkau.

"Sehingga jika ada pelanggaran, maka bisa kita deteksi. Radar itu akan digelar di mana saja, di Kupang, di Pontianak, di dekat Ambon, kemudian bagian Sumatera, jadi mana tempat yang bolong kita tempatkan radar itu," tutur Hadi saat itu. 

(Detik)

Australian AWD Program Advances

26 April 2017


HMAS Brisbane 41 (photo : Aus DoD)

Destroyer milestones mount

The project to supply new destroyers for the Royal Australian Navy continues in earnest with the delivery of the Hobart Class Command Team Trainer and the Aegis block of the future HMAS Sydney now in position.

The Trainer simulates the operations rooms of a destroyer and is a significant improvement on existing command team trainers already in service.

Consisting of mock-ups of a number ship systems, including the Aegis weapon system operator displays control panels and interfaces, the training environment delivery process involved the completion of formal acceptance tests, running over a four-week period and involving the execution of 24 separate test procedures. 

Then followed verification and audit against the original design specifications.


HMAS Hobart 39 (photo : Aus DoD)

Mr Brad Flemming is the Combat System Shore Systems and Services IPT Program Manager and said he was proud of the efforts of his small group of experts.

“Their dedication and hard work has produced a system with the quality and complexity you would expect of a much larger team,” he said.

Concurrently 'Block 709' dubbed 'the heart of the Aegis system' for Sydney was consolidated on 15 March.

Weighing 202 tonnes, it was lifted onto the top of the hull using a crane, where it was joined to blocks 703 and 705, in a process that took only 30 minutes.

The third Destroyer’s team continues to implement the lessons learnt from the previous ships, which has enabled enhanced outfitting of blocks from day one.


Prior to consolidation the aft diesel generator exhaust stack was capped, full paint system application internally and externally, the combat system was prepared and most importantly, the full-fitting of all four Array foundations and lining.


HMAS Sydney 42 (photo : Aus DoD)

To achieve the fitting of the Array foundations, the team had to work closely with the Accuracy Control Team to achieve foundation flatness of 0.02 millimetres.

NUSHIP Sydney Manager Jason Loveday commented on the importance of the block and its link to the progress of the project.

“The completion of Block 709 signifies a large achievement for the whole team involved," he said.

“Construction on the Block began over two years ago and through lessons learned from the first two ships, we have achieved a 30 per cent improvement in production hours from Ship 02 to Ship 03.

“Over 100, 000 person hours have been spent over the past three years on intensive production planning and hard work, and every member involved should all be very proud of what they have achieved.”

Ship 03 block consolidation continued with blocks 717 and 713 in April, and will be followed by the mast lift expected in early May.

(RAN)

Malaysia Signs Contract with China for Four Littoral Mission Ships

26 April 2017

CSIC Littoral Mission Ship (photos : Jane's)

Malaysia signed a contract on 21 April for the purchase of an initial four littoral mission ships (LMSs) from China for the Royal Malaysian Navy (RMN).

The agreement, which is part of a comprehensive strategic partnership between the two countries, was signed in Beijing by the China Shipbuilding Industry Corporation (CSIC) and Malaysia's Boustead Naval Shipyard (BNS) in a ceremony overseen by Chinese defence minister Chang Wanquan and his Malaysian counterpart, Hishammuddin Hussein.

Under the deal, the first two LMSs will be built by CSIC in China and delivered in 2019 and 2020, while the remaining two vessels will be built by BNS and delivered in 2021.



Malaysia's LMS programme is subsequently expected to expand, with BNS constructing up to 14 additional LMSs under licence to replace several classes of ship operated by the RMN as part of the service's '15-to-5 transformation programme'.

The RMN aims to increase the number of ships in service, while consolidating its fleet of 15 ship classes into five to reduce its dependence on single-mission vessels.

Under the '15 to 5' plan, the five remaining platform types - and the long-term aims for platform numbers - will be: three Multi-Role Support Ships (MRSSs), 12 Littoral Combat Ships (LCSs), 18 Littoral Mission Ships (LMSs), 18 Kedah-class (MEKO 100 RMN) guided-missile corvettes, and four diesel-electric submarines (SSKs).

(Jane's)

Dua Kapal Selam dari Korsel Segera Dikirim

26 April 2017


Tiga kapal selam TNI AL buatan DSME Korea Selatan (image : Korps Hiu Kencana)

JAKARTA – Kekuatan armada Angkatan Laut Indonesia bakal semakin tangguh. Juni mendatang, dua kapal selam jenis Chang-Bogo yang dipesan dari Korea Selatan akan dikirimkan. Kapal yang rencananya diberi nama KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 itu bakal memperkuat Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) yang berpusat di Surabaya.

’’Saat ini yang punya fasilitas markas kapal selam baru Koarmatim. Maka, kapal baru itu nanti juga akan bermarkas di sana,’’ jelas Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksda Achmad Taufiqoerrochman.

KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 dibuat oleh Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Seharusnya selesai Maret lalu. Namun, karena beberapa hal, kapal baru dikirimkan Juni. Saat ini dua kapal bertenaga diesel tersebut sudah meninggalkan galangan DSME untuk menjalani serangkaian uji di perairan Korea Selatan.

Sebenarnya, ada tiga kapal selam yang dipesan Indonesia. Satu lagi adalah KRI Alugoro 405. Kapal itu saat ini masih berada dalam perencanaan produksi.

Taufiq menjelaskan, mundurnya pengiriman KRI Nagapasa dan KRI Ardadedali disebabkan penyelesaian yang harus bersamaan. KRI Nagapasa harus menunggu selesainya konstruksi KRI Ardadedali untuk memulai uji coba. ’’Kalau satu diuji, satunya juga harus menemani,’’ ucapnya.

Ke depan, TNI Angkatan Laut akan menambah markas kapal selam. Dengan demikian, kapal selam tidak hanya bermarkas di Surabaya. Yang paling berpotensi untuk menjadi pangkalan kapal selam adalah Teluk Terate, Lampung. Tanah di lokasi teluk juga sudah merupakan aset milik TNI-AL. ’’Rencananya sudah lama, sejak zaman Presiden Soeharto,’’ ujarnya.

Saat ini Indonesia hanya memiliki dua kapal selam kelas Whiskey buatan Rusia. Yaitu, KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Setelah kedatangan kelas Bogo, dua kapal era Perang Dunia II itu akan tetap dioperasikan.

Sementara itu, Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Koarmatim Kolonel Indra Agus Wijaya mengatakan, markas satuan kapal selam sudah mempersiapkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk kedatangan tiga kapal selam Bogo. ’’Dermaganya sudah siap untuk tiga kapal. Berdampingan dengan dermaga yang ditempati Cakra dan Nanggala,’’ ujarnya.

Selain itu, saat ini prajurit TNI-AL dari satuan kapal selam sudah melakoni serangkaian pelatihan di beberapa negara seperti Jerman, Spanyol, dan Norwegia. Kru kapal pertama, KRI Nagapasa, juga sudah berangkat ke Korea Selatan untuk latihan operasional sejak beberapa bulan lalu. ’’Satu kapal nanti diawaki oleh 40 orang,’’ katanya.

(Pontianak Post)